Latest Post

Asal usul Desa SODONG - Wonotunggal

Written By Arif Stiawan on Friday, December 21, 2012 | 8:22 AM

Asal usul Desa SODONG - Wonotunggal. Ki Ajar Pendek yang berada di Silurah orangnya berangasan, senang membuat onar (senang adu kasekten). Pada suatu saat Pangeran Kajoran yang asal mulanya dari Wonobodro karena ingin menyebarkan agama Islam mereka mengembara mencari daerah yang memungkinkan untuk mendirikan masjid, sampailah di desa Tombo karena sesuatu hal ide pendirian Masjid di Tombo gagal, dan tempat tersebut dinamakan “Ngelo” dan barang siapa lewat di tempat situ pedagang atau pejabat atau bencoleng akan mengalami kehancuran.
Pangeran Kajoran merantau lagi sampai di suatu tempat yang masih hutan belantara dan banyak dihuni babi hutan sedangkan sarang babi hutan namanya “SODONG”.
Di sinilah Pangeran Kajoran ingin mendirikan masjid, adapun persiapan pembuatan masjid, batur lokasinya yaitu depan SD Sodong 01. sekarang bambu yang untuk buat usuk/rangken itu direndang di Paguyangan dan ada yang hanyut sampai di hutan dan tumbuh di situ, hutan tersebut namanya hutan Larangan (kalau mengambil bambu dari situ untuk membuat bangunan maka tidak akan jadi).
Paguyangan tersebut yang membuat adalah Den Bagus Karang/Ki Carang Aking yaitu seorang pengembala kerbau yang berasal dari daerah Blado dan setiap saat orang mengguyang kerbau/memandikan kerbau di situ kerbaunya senang berkelahi dengan batu di tengah guyangan tersebut maka batu itu namanya “Watu Palem”. Den Bagus Karang, karena masih jaman peperangan dia dibutuhkan ke daerah Plelen (Grinsing) dan di Sodong meninggalkan tempat ibadah dekat Peguyangan. Dan setiap bulan Sapar hari Rabu Kliwon sampai sekarang masih ada.
Pangeran Kajoran akan membuat masjid di Sodong tidak jadi karena ketahuan perawan Sunti (perawan yang tidak punya suami) maka sampai sekarang kalau ada perawan yang kasep banyak yang minta petunjuk dengan mbah Tasmi sehingga akan banyak segera mendapat jodoh (banyak yang datang dari daerah yang lain).
Pembuatan masjid juga dibatalkan karena permusuhan antara Ki Ajar Pendek dengan Pangeran Kajoran. Karena keduanya juga orang sakti maka saling mengeluarkan kesaktiannya yaitu Ki Ajar Pendek mengeluarkan hujan cacing maka pangeran Kajoran mengeluarkan hujan itik, dan Ki Ajar mengeluarkan hujan api maka Pangeran Kajoran mengeluarkan hujan angin yang sekarang namanya si angin-angin dan apabila orang (pejabat, orang yang murka) lewat di situ maka akan segera hancur kedudukannya. Pembuatan masjid dilanjutkan dan “SODONG” hanya untuk “NONOB” atau istirahat atau ngaso dan ngandhong (Ngasodong) menjadi SODONG.
Pengikut Pangeran Kajoran yang namanya Kyai Ageng Asmo (Syeh Baitul Iman) yang meninggalkan Candhen/makom yang berwujud Batu Lima cacahnya yang orang sodong mengatakan batu itu sebagai tanda :
1.      Hitungan pasaran           : Kliwon, Manis, Pahing, Puasa dan Haji.
2.      Rukun Islam                    : Sahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji.
3.       Pancasila                       : Berketuhanan, Berkeprimanusiaan, Bersatu Bermusyawarah,      berkerakyatan, Mempunyai rasa keadilan sosial.
Maka orang sodong selalu melewati rasa kegotong royongannya untuk mencapai sukses bersama.

Sumber: mgmpsejarahsmakabbatang.blogspot.com

Asal Usul Desa SI LURAH - Wonotunggal

Asal Usul Desa SI LURAH -  Wonotunggal. Konon kabarnya yang pertama-tama membuka hutan untuk dijadikan perkampungan adalah seorang yang bernama Ki Lurah. Oleh karerna itu daerah yang baru dibuka diberi nama Silurah, sebagai pertanda bahwa yang membuka hutan tersebut adalah Ki Lurah.

Setelah Silurah menjadi desa yang ramai, suatu hari desa dilanda pageblug, yaitu apabila ada orang yang sakit pagi sorenya meninggal dunia, demikian pula kalau sakit sore paginya meninggal dunia. Demikian pageblug terus melanda desa tanpa ada yang dapat menghentikannya, hingga suatu hari ada seorang yang bernama Ki Gonel dengan istrinya Ni Gonel yang dengan kesaktiannya dapat melenyapkan pageblug tadi. Sebagai tanda syukur telah berhasil melenyapkan pageblug, penduduk mengadakan syukuran dengan menyembelih seekor kambing kendit, dan kepalanya ditanam di suatu tempat yang bernama Larangan, sedangkan sebagai hiburannya didatangkan ronggeng dengan gamelan yang digunakan untuk mengiringnya yang berasal dari gunung Rogokusumo yang dapat dipinjam asal dengan memberi sesaji.
Adapun cerita yang terjadi pada penduduk bahwa di gunung Rogokusumo dapat dijumpai adanya emas sebesar kerbau. Karena saking besarnya mampu memberi pengaruh warna kuning bagi orang yang lewat disebelahnya.Itulah mengapa disebut dengan gunung Rogokusumo. Di desa Silurah juga dapat dijumpai adanya pertapaan, yaitu tempat orang-orang yang datang dari daerah manapun untuk bertapa di situ. Dan di tempat tersebut dapat dijumpai adanya tempat untuk membakar kemenyan. Sedangkan gamelan yang bisa dipinjam oleh penduduk bila mengadakan hajat sudah tidak ada lagi, yang ada hanya masih tempat gantungan gongnya saja. 
Karena pada jaman dahulu tiap penduduk yang meminjam ada yang mengembalikannya terlambat tidak sesuai dengan perjanjian, juga kalau ada yang meminjam tidak merawat sehingga menjadi kotor. Sehingga oleh pemilik perangkat gamelan hal itu tidak menjadi berkenan dan gamelan tidak bisa keluar lagi.

Sumber: mgmpsejarahsmakabbatang.blogspot.com

Asal Usul Desa BATIOMBO - Wonotunggal

Asal Usul Desa BATIOMBO -  Wonotunggal. Konon kabarnya yang membuka hutan Batiombo untuk dijadikan perkampungan adalah mbah Soleman. Namun mbah Soleman tidak sendirian, ia dibantu oleh mbah Runtah yang membuka hutan yang kemudian dijadikan desa Wonorejo. Selain membuka hutan untuk dijadikan perkampungan mbah Runtah juga membuat persawahan di  Glendeng dan Kali Asem. Juga ada den Usup yang membuka hutan untuk dijadikan desa Sempu. Ketika sedang membuka hutan den Usup menjumpai pohon asem yang ada empunya (penunggunya), maka hutan yang baru dibuka itu dinamakan Sempu.

Karena berjasa dalam membuka hutan menjadi desa Sempu den Usup oleh penduduk diberi julukan Mbah Sempu. Selain membuka hutan untuk perkampungan den Usup juga membuat persawahan dan sungai Jamban sari yang mengalir dari Si Kuntung di desa Wonosegoro sampai Kluwak. 

Setelah meninggal dunia ketiga orang tadi dimakamkan di makam desa Batiombo yang terletak disebelah selatan desa Batiombo. Pada waktu yang menjadi kepala desa Haji Sabuk didatangkan guru agama dari Mangkang untuk mengajar penduduk dalam soal agama Islam. Sehingga dalam waktu yang cukup lama banyak penduduk yang mengikuti soal agama Islam. 

Dalam kisahnya diceritakan pada suatu waktu ada pangeran yang bernama Mbantu kuwat. Pangeran dari Solo itu mengadakan perjalanan adalah dalam rangka melakukan topo broto (laku prihatin). 

Sewaktu tiba di sebelah selatan desa Batiombo ia berhenti untuk istirahat dan melakukan sholat. Konon kesaktiannya batu yang digunakan untuk alas sholat tadi membekas telapak kaki, lutut, tangan, dahi dan mata. Dan sampai sekarang batu tersebut dapat dujumpai terletak di tepi sebuah sungai sebelah selatan desa Batiombo.

Sumber: mgmpsejarahsmakabbatang.blogspot.com

BP3K WONOTUNGGAL JUARA TINGKAT NASIONAL TAHUN 2012

foto bersama Bpk Bupati Batang dan Kepala BP4K kabupaten Batang

 WONOTUNGGAL MENJADI JUARA BP3K MODEL TINGKAT  NASIONAL
Di bulan ramadhan kemarin dan bulan syawal ini BP3K Wonotunggal mendapat berkah yang luar biasa, bagai mana tidak bertepatan dengan bulan yang penuh berkah yaitu bulan rhamadhan kemarin BP3K wonotunggal mendapat undangan untuk ke istana Negara guna mengikuti upacara bendera HUT RI yang ke 67 dan juga untuk menerima penghargaaan dari bapak presiden dalam rangka juara I BP3K model tingkat nasional, yang di wakili oleh bapak hartono Amd selaku koordinator BP3K  Wonotunggal. Hal tersebut merupakan titik klimaks dan akhir dari penantian dari para punggawa kantor BP3K dalam menanti hasil dari penilaian pada bulan juni 2012 kemarin antara berhasil atau kalah. Menurut bpk Tri Budiarko SP yang merupakan PPL perikanan teladan tingkat provinsi dan merupakan orang yang mempunyai peranan yang sangat penting dan vital dalam hal keberhasilan BP3K Wonotunggal menuturkan bahwa kita sudah menyerahkan seluruhnya pada allah SWT mau menang atuapun kalah yang penting kita sudah berusaha sekuat mungkin agar berhasil dengan maksimal, hal tersebut dijawab oleh allah yaitu dengan diberikan ujian berupa penghargaan juara I dari tingkat kabupaten sampai tingkat nasional.
Pada waktu penilaian memang BP3K wonotunggal diunggulkan dari sector Lapanganya terutama lahan percobaan. Dari 3 Sektor penyuluhan wonotunggal mempunyai semua, dari sector perikanan sudah ada kolam permanen yang sangat tertata dengan rapi, sector yang utama yaiu pertanian sudah komplet dari tanaman pangan Padi sampai hortikultura, dari sector Kehutanan sudah da pembibitan sengon dan merupakan posko OBIT untuk 3 kecamatan. Disamping lapangan yang menjadi penilaian pokok administrasi kantor dan perlengkapan kantor merupakan menjadi penilaian yang mutlak. Dan yang menjadikan penilaian kita menjadi full adalah pada waktu penilaian bapak bupati batang bpk Yoyok Ryo Sudibyo mendampingi dari awal sampai akhir itu merupakan nilai plus yang sangat baik. Karena dengan kedatangan bapak bupati batang yang penuh dengan pekerjaan yang seabrek maka para penilai berasumsi bahwa Kabupaten batang sangat meperhatikan biadang pertanianya terutama para penyuluhnya agar kinerjanya dapat meningkat.
                Menurut bpk Hartono Amd, bahwa keberhasilan BP3k dalam menjuari lomba BP3K tingkat Nasional merupakan kerja keras seluruh jajaran penyuluh yang ada di BP3K Wonotunggal yang di dukung oleh para kelompok dan Gabungan Kelompok tani maupun ikan se kecamatan Wonotunggal, BP4K kabupaten Batang, Bapak Bupati batang dan Setbakorluh Provinsi Jawa Tengah, beliu mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan dan bantuanya kepada semuanya. Dan yang paling berkesan sebelum berangkat kejakarta menurut bak hartono adalah di panggil oleh bapak bupati bapatang untuk mengucapkan selamat dan di beri bekal materi untuk biaya selama di Jakarta dan juga di kasih kunci apartemen milik bapak Bupati Batang Pribadi. Dan beliau juga menuturkan dengan kita mendapat penghargaan tersebut maka kita harus tetap mempertahan kinerja kita jangan kita terus menurun kinerja kita karena sudah berhasil karena mempertahankan dengan meraih lebih sulit dalam hal mempertahankan.

Salak Sodong Wonotunggal Batang

 
Salak Sodong Wonotunggal Batang. Terletak di Desa Sodong Kecamatan Wonotunggal dengan jarak ± 17 km dari ibu kota Kabupaten Batang dengan ketinggian 600 - 800 m dari permukaan laut. Desa Sodong memiliki potensi yang dalam pembangunan yaitu Curug dan Agrowisata Salak Sodong, selain itu juga dikenal sebagai penghasil kapulogo, panili, dan cengkeh. Salak Sodong pada tahun 1999 pernah menjadi juara lomba buah Tingkat Jawa Tengah.

Suasana Di Wonotunggal

Suasana Di Wonotunggal
Kecamatan Wonotunggal terletak di kawasan perbukitan di sebelah selatan kota Batang. Suasana yang asri dan udara yang segar menjadi ciri khas dari desa Wonotunggal. Fenomena yang mudah dikenali jika berada di kecamatan Wonotunggal ini adalah area persawahan dan gubuk-gubuk berukuran besar tempat industri pembuatan batu-bata.

Di Wonotunggal terdapat pertigaan yang menuju Bandar, Batang dan Pekalongan. yang merupakan Jalan utama yang menjadi akses utama masyarakat Bandar, Blado, Batang, Dan Warung Asem.

Tentang Wonotunggal Batang

jembatan sendang

Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Propinsi jawa tengah, Indonesia. Wonotunggal adalah sebuah kecamatan yang berada di kabupaten batang yang keduanya (batang dan wonotunggal) sama-sama kawasan yang "asing" bagi kebanyakan masyarakat di luar jawa tengah. hal ini sangat disayangkan sekali mengingat sebenarnya kabupaten batang, khususnya kecamatan Wonotunggal yang memiliki banyak potensi sekali sumber daya alam  dan potensi sumber daya manusia yang sangat bagus namun belum bisa dimanfaatkan secara optimal.

Kecamatan Wonotunggal terletak diantara 3 kecamatan yang cukup besar di kab.Batang, yaitu diantara kec.batang, kec.bandar, dan kec. warung asem. Melihat hal ini, seharusnya Kecamatan Wonotunggal merupakan daerah yang sangat strategis untuk dijadikan lahan perekonomian. apalagi di Desa Wonotunggal yang disana ada simpang 3 yang menuju Batang, Warung Asem dan Bandar.

Namun pada kenyataannya, Kecamatan Wonotunggal, khususnya kelurahan wonotunggal sendiri sangat sepi dengan aktivitas perdagangan. Hal ini mungkin karena di Wonotunggal tidak mempunyai pasar induk yang bisa menampung para pedagang dan pembeli untuk melakukan transaksi dan interkasi perdagangan yang merupakan senjata paling ampuh untuk meningkatkan perekonomian daerah. ada memang sebuah pasar baru yang baru saja dibuat belum lama, tapi sepi peminat. terang saja, pasar baru tersebut terletak di desa tegalsari (tugu) yang sangat sepi. sehingga para pedagang tidak yakin kalau mereka membeli kios di situ bisa laku atau tidak, karena pasarnya terletak di depan SMP Wonotunggal 01 yang jarang dilewati oleh mobil dan motor. selain itu juga tidak ada angkot yang lewat jalan tersebut. al hasil, bangunannya jadi rusak sebelum terpakai alias mubadzir. Saya tidak tahu apa alasannya komplek pasar wonotunggal di bangundisana, hal apa yang menjadi pertimbangan sehingga terjadi hal demikian mungkin yang mempunyai kewenangan yang lebih tahu.

Terlepas dari hal tersebut, saya secara pribadi bangga menjadi anak wonotunggal, walaupun sering dijadikan sebagai bahan ejekan oleh orang-orang dari daerah lain, ada yang mengatakan kecamatan sepi, desa mati, dan yang lain. Sebenarnya walaupun sepi, Kecamatan wonotunggal termasuk kecamatan yang maju, dan mandiri. terlihat dari kehidupan masyarakat yang sejahtera walaupun sederhana. Kebahagiaan tidak terletak dari besar kecilnya penghasilan yang yang kita peroleh, tetapi bagaimana kita biosa mensyukuri apa yang kita peroleh. jika kita sudah bisa bersyukur atas apa yang Allah berkiak kepada kita, insyaAllah hibup ini terasa mudah, tidak susah, dan kebahagiaan akan selalu menghampiri kita.

Sebagian besar masyarakat Wonotunggal berpencaharian sebagai petani, secara wonotunggal merupakan daerah yang subur dan masih sedikit pembangunan berupa perumahan dan ruko-ruko yang sekarang merajalela. kesuburan, keasrian, dan kehijauan wonotunggal ini membuat saya semakin bangga dengan Kecamatan Wonotunggal karena masyarakat di Kecamatan Wonotunggal sudah menjalankan progran Go Green sebelum disuru oleh pemerintah. kesadaran masyarakat wonotunggal sangat tinggi terhadap lingkungan, sehingga lingkungan di wonotunggal sangat nyaman. bahkan dari hasil pertaniannya tersebut wonotunggal terkenal dengan hasil Salaknya, yaitu Salak Sodong.

Selain bertani, masyarakat wonotunggal juga kebanyakan menjadi pedagang. menjadi pedagang adalah pekerjaan yang sangat baik, bahkan Rasulullah menyuruh umatnya untuk mencari nafkah dengan jalan berdagang. jaid selain ramah lingkungan, masyarakat wonotunggal juga sangat taat dalam beragama dengan menjalankan sunnah Rasulyaitu denga berdagang. Bahkan dijelaskan dalam hadits bahwa 17 pintu rizki itu adalah dengan jalan perdagangan.

Banyak juga masyarakat Wonotunggal yang menjadi pegawai negeri. hal ini mencerminkan bahwa masyarakat wonotunggal adalah masyarakat yang berpendidikan tinggi, karena hanya orang-orang yang berpendidikanlah yang bisa menjadi pegawai negeri.

Bp Tri di BP3K Wonotungga
Sebagian yang lain ada yang menjadi buruh, membantu orang-orang kaya yang lagi kesusahan, yang tidak bisa melakukan pekerjaan sendiri. ini juga menunjukkan kalau masyarakat wonotunggal itu peduli dengan lingkungan, tenggang rasa, dan memiliki jiwa saling tolong menolong yang tinggi. Hal ini juga sesuai dengan perintah Allah untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.

sekian dulu artike Tentang Wonotunggal Batang  kali ini. apapun pandangan anda tentang Wonotunggal Batang. yang jelas saya adalah anak wonotunggal yang cinta akan tanah kelahirannya.

Tentang Arif Setiawan


Arif Setiawan. Nama Aslinya adalah Arif Stiawan bin Ramelan Bin Tabran Waslim. Lahir di Batang (tepatnya di Dukuh Siwungu, Desa Siwatu, Kecamatan Wonotunggal) pada tanggal 22 Juli 1991, atau bertepatan dengan tanggal  10 Muharram 1412 H. Beliau adalah buah cinta yang ke-2 dari pasangan suami istri yang mesra yaitu Ramelan (ayah) dan Sumarni (ibu) setelah kakaknya Wahyu Aji Prastyo. 

Adalah Arif Stiawan seorang yang tidak memiliki hobi kecuali membaca dan menulis serta design grafis. Olah raga bukanlah hobi ataupun kegemaran baginya, melainkan olah raga adalah kebutuhan yang harus dipenuhi demi kesehatan badan. 

Arif Stiawan merupakan seorang yang tidak pernah menikmati indahnya pendidikan di taman kanak-kanak, karena langsung masuk SD, yaitu SD Wonotunggal 01 – Batang. Dan kemudian melanjutkan ke Madrasah, yaitu MTs. Ahmad Yani Wonotunggal – Batang. Setelah itu masuk SMAN 1 Bandar – Batang

Saat ini Arif Stiawan adalah seorang Mahasiswa di sebuah Sekolah Tinggi Islam yang terletak di Kota Pekalongan, yaitu tidak lain adalah STAIN Pekalongan. Jurusan yang diambil adalah Jurusan Tarbiyah, Program Study PAI.
 
Support : 085 868 984 089
Copyright © 2013. Arif Setiawan Wonotunggal - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger